ADAB GURU KEPADA PESERTA DIDIK
Menjadi pendidik merupakah amanah dari Allah. Sama halnya seorang dokter bertanggungjawab terhadap kesehatan pasiennya. Guru bertanggungjawab terhadap kesehatan jiwa dan pikiran peserta didik. Tertuang dalam kode etik guru yang berfungsi untuk rambu-rambu atau norma sebagai pijakan para guru.
Pendidik atau guru merupakan profesi yang mulia. Sangat disayangkan apabila hanya diniatkan pada tujuan yang sifatnya hanya duniawi semata. Niat memberikan ilmu karena Allah tentu akan menjadi nilai ibadah dan tentu saja akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan. Contohnya ketika kita mengajarkan amal saleh kepada peserta didik. Kita akan mendapatkan amal jariah, terlebih jika peserta didik mengamalkan ilmu yang sudah kita ajarkan.
Lantas ketika peserta didik memiliki akhlak yang kurang baik maka cara kita sebagai pendidik adalah dengan cara mengingatkan dengan lembut, penuh kasih sayang, dan tidak secara terang-terangan di hadapan orang lain. Imam Syafi’i pernah berkata, “Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu.” Hal ini dimaksudkan agar selain murid mendapatkan isi dari nasihat sang guru, tapi juga menjaga aib akhlak buruknya dari orang lain.
Sementara tidak semua peserta didik memiliki daya tangkap dan pemahaman yang sama. Idealnya, guru bisa memberikan penjelasan tentang pelajarannya dengan gamblang agar mudah dipahami oleh semua peserta didik. Tidak terkecuali oleh peserta didik yang kebetulan memiliki daya tangkap yang rendah. Imam Tirmidzi dalam Kitab Asy-Syamail meriwayatkan dari Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berkata dengan tergesa-gesa sebagaimana yang biasa kalian lakukan. Akan tetapi, beliau berkata dengan ucapan yang sangat jelas dan rinci, sehingga orang lain yang duduk bersamanya akan dapat memahami setiap perkataan beliau.” (HR. Imam Tirmidzi).
Layaknya ayah dan ibu kepada anak kandungnya, seorang guru sebaiknya memperlakukan peserta didiknya seperti memperlakukan anaknya sendiri. Mengajar dengan penuh kasih sayang, kelembutan, pemahaman, dan menjaga aib-aibnya dari orang lain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orang tua kepada anaknya. Aku mengajari kalian.” (Ibnu Majah melalui Abu Hurairah).
Seperti dalam falsafah Jawa, guru merupakan akronim dari kata digugu lan ditiru, sebuah ungkapan yang berarti dipatuhi dan dicontoh. Ungkapan ini betul-betul tepat, karena seorang guru harus menjadi contoh bagi peserta didiknya. Pastikan apa yang kita ajarkan sudah kita lakukan dan amalkan dalam keseharian. Maka, memang tidak gampang menjadi seorang guru, karena contoh baik harus terus dilakukan sebagai guru. Tidak hanya lewat kata-kata namun melalui perbuatan yang kita lakukan. Seperti istilah satu perbuatan lebih baik daripada seribu kata.
Selanjutnya adab guru terhadap murid di atas perlu dilakukan dan diamalkan secara terus menerus. Seorang guru pasti memimpikan dan mendoakan peserta didiknya memiliki prestasi gemilang juga memiliki perilaku dan akhlak mulia.

