Aroma Kenangan di Kopi Pagi
Saat fajar perlahan membuka mata,
Dan langit mengalun dalam warna lembut,
Aku temukan diriku di meja yang sama,
Dengan cangkir kopi yang memancarkan hangat.
Uap yang naik dari cangkir porselen,
Seperti melodi yang membisikkan cerita,
Tentang pagi-pagi yang pernah kulalui,
Dan kenangan yang terperangkap dalam aroma ini.
Dulu, di pagi yang serupa,
Aku duduk di sini, menunggu hari dimulai,
Dengan secangkir kopi hitam,
Yang tak hanya mengusir kantuk,
Tapi juga mengajak kenangan kembali.
Setiap tegukan adalah perjalanan,
Ke masa-masa penuh tawa dan haru,
Aroma kopi yang pekat,
Membawa serta bayanganmu,
Mengisi udara dengan memori kita.
Aku ingat kita duduk bersama,
Di sudut kafe yang sederhana,
Membicarakan mimpi dan harapan,
Dalam setiap hirupan kopi yang hangat.
Cinta kita tumbuh seperti biji kopi,
Mengakar dalam, menguatkan hari-hari,
Kini, meski jarak memisahkan,
Aroma ini menghubungkan kita,
Mengantarkan kenangan lewat setiap hembusan.
Dalam keheningan pagi,
Aku hirup dalam-dalam,
Mencoba menangkap kembali,
Setiap momen yang tertinggal,
Dalam aroma kenangan yang manis.
Kopi ini, saksi bisu dari banyak cerita,
Mengalirkan hangat di setiap tegukan,
Menghadirkan senyum dalam kesendirian,
Dan cinta dalam setiap aroma yang melayang.
Saat matahari mulai mengintip dari balik awan,
Aku tahu, kenangan ini akan selalu hidup,
Dalam setiap cangkir kopi yang kuseduh,
Di setiap pagi yang penuh harapan.

