Santri Putri Kelas II Aliyah Batu Korong Menggali Hikmah: Apa yang Dapat Dipetik dari Q.S Ali Imran Ayat 7?
Edusiana - Singkil (Rabu/7/Mei/2025)
Ba'da Subuh, kabut tipis masih menyelimuti hamparan bukit Batu Korong yang berbalut embun pagi. Tatapan mata santri kelas II Aliyah putri penuh konsentrasi tertuju pada kitab Tafsir Jalalain, juzu' satu, halaman 185: "surat Ali Imran ayat tujuh", ayat yang menyimpan kedalaman makna dan sering kali menjadi perdebatan. Bukan sekedar membaca dan mendengar, mereka hadir untuk sebuah petualangan intelektual menembus lapisan-lapisan tafsir demi menemukan permata hikmah yang tersembunyi.
Ayat yang menjadi fokus kajian pada pagi itu: "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok Kitab, dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-ur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." (Q.S. Ali Imran ayat 7).
Bagi sebagian orang, keberadaan ayat mutasyabihat (samar) dalam Al-Qur'an, seperti yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 7 ini, mungkin menimbulkan pertanyaan. Namun, bagi para santri ini, adalah sebuah tantangan yang justru mengasah nalar dan memperdalam keimanan. Mereka belajar bahwa Al-Quran bukanlah kitab yang dangkal, melainkan samudra ilmu yang menyimpan hikmah dan keagungan.
Kisah di balik turunnya surat Ali Imran ayat 7 tak kalah menarik. Bayangkan, di masa awal Islam, muncul berbagai pertanyaan dan bahkan upaya untuk memutarbalikkan makna ayat demi kepentingan kelompok tertentu. Ayat ini hadir sebagai penegasan akan adanya ayat-ayat pokok yang menjadi rujukan utama, sekaligus peringatan keras bagi mereka yang sengaja mencari-cari celah dalam ayat-ayat mutasyabihat, seperti yang dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 7, untuk menimbulkan fitnah dan keraguan.
Salah satu latar belakang historis diturunkan ayat ini adalah untuk merespons perkataan dan keyakinan menyimpang sebagian orang musyrikin mengenai Nabi Isa alaihissalam, mereka menggunakannya ayat-ayat Al-Quran yang menyebut Isa sebagai "Ruhullah" dan "Kalimatullah" untuk menjustifikasikan keyakinan mereka yang keliru, seperti menganggap Isa sebagai "Anak Tuhan".
Ayat ini hadir untuk menjelaskan bahwa meskipun Isa memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah dan diciptakan dengan cara yang luar biasa melalui kalimat-Nya, beliau tetaplah seorang hamba dan utusan Allah. Orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan akan mengambil ayat-ayat mutasyabihat seperti penyebutan "Ruhullah" dan "Kalimatullah" untuk menimbulkan kerancuan dan menguatkan keyakinan batil mereka, tanpa merujuk pada ayat-ayat muhkamat yang dengan jelas menyatakan keesaan Allah, dan status kehambaan Isa alaihissalam.
Sesi belajar Tafsir pada kesempatan ini, santri bukan hanya diajak untuk mendengarkan pemahaman tekstual ayat, tapi juga memahami berbagai perspektif ulama. Mereka belajar bagaimana Imam Ibnu Katsir menekankan bahaya mengikuti hawa nafsu dalam menafsirkan ayat mutasyabihat yang disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 7. Mereka juga memahami bagaimana Imam Al-Ghazali menjelaskan pentingnya keseimbangan antara akal dan hati dalam memahami kalamullah, termasuk dalam menelaah surat Ali Imran ayat 7.
Diskusi hangat sering kali terjadi. Para santri dengan antusias mengajukan pertanyaan, mencoba merangkai benang merah antara berbagai penafsiran surat Ali Imran ayat 7. Mereka belajar bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekayaan intelektual yang memperkaya pemahaman akan Al-Quran.
Bagi mereka, belajar tafsir surat Ali Imran ayat 7 bukan hanya tentang memahami makna tersurat dan tersirat, melainkan lebih dari itu.
Dengan mempelajari ayat 7 tersebut bisa menumbuhkan kerendahan hati, menyadari bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah itu sangat luas, belum tentu apa yang tidak kita ketahui, orang lain tidak memahami.
Dengan mempelajari surat Ali Imran ayat 7 bisa memperkuat iman. Meyakini bahwa seluruh ayat Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak dari Allah SWT, baik yang mudah dipahami atau yang memerlukan perenungan lebih dalam.
Di samping itu, dengan memahami surat Ali Imran ayat 7 tersebut bisa mengasah ketajaman akal, berlatih untuk berpikir kritis, menganalisis berbagai pendapat yang multi tafsir tentang ayat itu, mencari kebenaran berdasarkan dalil yang kuat, dan membangun benteng diri, menghindari diri dari godaan menafsirkan ayat Al-Qur'an berdasarkan hawa nafsu atau kepentingan pribadi.
Kisah mereka adalah inspirasi bagi kita, bahwa dalam setiap ayat Al-Qur'an tersembunyi lautan hikmah yang siap dijelajahi oleh jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran. Semoga dengan mempelajari dan merenungi surat Ali Imran ayat 7 ini, semakin luas pengetahuan mereka tentang Ilmu Tafsir, serta menjadi generasi penerus bangsa yang Qur'ani.
Penulis Artikel:
Ust. Sayuti Is, S.Sos, Pengajar Tafsir

