Sepi di Serambi Rumah Tua
Dalam senyap senja yang mulai meredup,
Angin lembut berbisik di antara dedaunan,
Serambi rumah tua berdiri diam tak terusik,
Merangkai kenangan yang berpendar dalam keheningan.
Di atas lantai kayu yang berderit pelan,
Jejak-jejak langkah waktu tertinggal tak terhapus,
Dinding-dinding tua menyimpan cerita usang,
Tentang tawa, tangis, dan rindu yang tak pupus.
Jendela-jendela kusam menatap hampa,
Melihat dunia yang terus berputar tanpa henti,
Sementara di dalamnya, waktu seakan berhenti,
Menyisakan sepi yang tak terhingga.
Kerangka atap yang mulai rapuh,
Seperti tangan-tangan renta yang memeluk erat,
Menjaga setiap rahasia dalam bisikan angin,
Menghadirkan rasa hangat dalam dinginnya malam.
Di serambi ini, aku duduk merenung,
Menyatu dalam sunyi yang begitu dalam,
Merasakan setiap desah napas masa lalu,
Yang berhembus lembut, menyentuh hati yang diam.
Rumah tua ini, saksi bisu perjalanan waktu,
Mengajarkan tentang arti kehilangan dan cinta,
Dalam sepinya, aku menemukan diriku,
Di serambi rumah tua, aku merajut asa yang tersisa.

