Kerinduan yang Mengalir di Sungai Waktu
Dalam derasnya arus sungai waktu yang tak terhenti,
Kerinduan mengalir, lembut namun pasti,
Membawa kenangan yang tak pernah usai,
Mengalun bersama setiap detik yang lewat tanpa kata.
Di setiap riak yang mencium tepi sungai,
Tersimpan cerita lama yang tertulis dalam diam,
Tentang saat-saat yang kini hanya menjadi bayang,
Terhempas jauh, namun selalu terasa dekat di hati.
Angin membawa bisikan dari masa lalu,
Mengiringi derasnya arus yang mengalir tanpa ragu,
Menyampaikan salam dari waktu yang tak pernah diam,
Menghidupkan kembali bayangan yang hilang dalam jarak.
Di kejauhan, matahari terbenam di balik cakrawala,
Mewarnai sungai dengan emas yang tenang,
Seperti tangan yang lembut menyentuh ingatan,
Membawa rasa hangat, meski tak bisa direngkuh.
Kerinduan ini bagai sungai yang tak pernah kering,
Mengalir melewati celah-celah hati yang rapuh,
Menyatukan masa lalu dan kini dalam satu arus,
Menghapus jarak dengan setiap tetes yang jatuh.
Di malam yang tenang, bintang-bintang menjadi saksi,
Dari cerita yang terurai dalam aliran ini,
Mereka berkilau seperti harapan di tengah gelap,
Menemani kerinduan yang berlayar di sungai waktu.
Waktu terus berlalu, tak pernah kembali,
Namun kerinduan tetap mengalir tanpa henti,
Menjaga setiap memori tetap hidup dalam diri,
Menuntun hati melintasi arus yang abadi.
Dan saat fajar menyingsing di ujung hari,
Sungai waktu tetap mengalir, membawa kerinduan ini,
Mengisi setiap detik dengan harapan dan mimpi,
Mengajarkan bahwa setiap rasa adalah bagian dari kita.

